Panik lagi... panik lagi ...., ini menimpa pasar saham dunia seperti di laporkan Kompas sebagai berikut.
Selasa, 22 Januari 2008 23:57 WIB
NEW YORK, SELASA - Pasar saham di berbagai belahan dunia jatuh. Kepanikan melanda akibat kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan terbelit resesi.
Bursa Wall Street, Selasa (22/1) langsung mengalami kepanikan setelah sesi perdagangan dibuka. Saham blue-chip lansung jatuh 400 poin, namun kemudian sedikit membaik sehingga hanya jatuh 135,10 poin (total turun 1,12 persen).
Kejatuhan yang cukup signifikan terjadi pada Nasdaq, turun 59,72 poin (2,55 persen). Indeks 500 Standard & Poor’s turun 20,20 poin (1,52 persen).
Penurunan harga saham di bursa AS tersebut merupakan rentetan dari kepanikan yang melanda bursa saham di berbagai belahan dunia atas kekhawatiran terjadi resesi di AS. Pasar saham Eropa pada Senin lalu mengalami kejatuhan terburuk semenjak kasus serangan teroris 11 September 2001 di New York.
Kekhawatiran pasar saham dunia tersebut kian bertambah setelah Bank Sentral AS (The Fed) yang menurunkan suku bunga 75 basis poin menjadi 3,50 persen, yang ditujukan untuk meredam kekhawatiran tersebut pada Selasa.
Pasar saham Eropa Selasa juga masih mengalami penurunan. Di bursa China, indeks saham unggulan terpangkas 7,22 persen, bursa Sydney (Australia) jatuh 7,1 persen.
Bursa saham di kawasan Teluk dan Arab juga menderita hal sama. Bursa Arab Saudi yang merupakan bursa saham terbesar di kawasan Arab, jatuh 9,7 persen. Bursa Dubai juga jatuh, 6,2 persen.(AFP/Put)
Sunday, April 27, 2008
Greenspan dan Warisan Krisis
Inilah Tokoh yang sangat disegani di AS yang saat ini justru dituding sebagai biang kacaunya ekonomi AS berikut petikannya secara utuh dari koran Kompas.Senin, 31 Maret 2008 00:41 WIB
Kalau ada tokoh paling kontroversial dalam sejarah krisis ekonomi AS, salah satunya mungkin adalah Alan Greenspan. Waktu masih menjabat, Greenspan yang menjabat sebagai pimpinan Federal Reserve selama hampir dua dekade (Agustus 1987-31 Januari 2006) bisa dikatakan adalah salah satu pimpinan bank sentral paling kuat dan disegani di AS, bahkan di dunia.
Ia menerima perlakuan dan sorotan bak selebritas, melebihi bintang-bintang musik rock ternama. Ia juga menjadi acuan semua pengelola bank sentral (central bankers) di seluruh dunia. Banyak julukan diberikan kepadanya oleh media massa dan kalangan bankir. Mulai dari the Giant, Maestro, ”symbol of American Economic Preeminence”, ”orang yang mampu membawa ekonomi keluar dari serangkaian bencana dan malapetaka”, ”tokoh yang mampu membawa perekonomian AS ke dalam salah satu booming ekonomi terpanjang dalam sejarah”, ”tokoh yang mampu menjinakkan gejolak saham dalam peristiwa crash pasar saham (Black Monday) tahun 1987”. Dan masih banyak lagi.
Tetapi, seiring resesi dan krisis finansial yang kini mulai menggulung perekonomian AS, nama Greenspan juga berada di tengah pusaran caci maki. Kebijakan Fed di bawah Greenspan dituding berperan besar dalam membawa keambrukan ekonomi AS sekarang ini. Melalui kebijakan moneter longgar dan suku bunga rendah, Greenspan dituding telah membangun ”rumah kartu” dan mewariskan bom waktu yang kini perlahan terurai dan menunggu meledak dalam skala penuh.
Kebijakan suku bunga rendah yang dimulai sejak tahun 2002, saat Greenspan secara agresif mulai menurunkan suku bunga, telah memicu terjadinya real estate bubble (booming sektor perumahan diikuti inflasi harga perumahan secara tidak wajar), yang mencapai puncaknya tahun 2005-2006.
Greenspan dalam pengakuan waktu itu mengatakan, kebijakan (menciptakan bubble di sektor perumahan) itu disengaja dengan tujuan untuk menggantikan bubble saham industri dot.com yang sudah berakhir. Alasan dia, itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan perekonomian AS dari resesi akibat kolapsnya industri dot.com. Kemampuan manuver untuk menyelamatkan ekonomi AS dari satu krisis akibat suatu bubble dengan cara menciptakan bubble baru itu membuat ia dijuluki ”The Bubble Man”.
Greenspan menjadi sosok penuh kontroversi lewat kontradiksi tindakan dan ucapannya yang mengesankan ia tak mau dipersalahkan atas segala kemelut yang dihadapi perekonomian AS sekarang ini. Terkait tudingan bahwa ia telah merampok masyarakat dan memperkaya kaum berpunya lewat dukungannya terhadap kebijakan pajak regresif yang ditempuh Bush, misalnya. Greenspan mengklaim dia justru menentang kebijakan tersebut.
Padahal, faktanya, dalam testimoni di depan Komite Anggaran Senat 2001, menurut analis Stephen Lendman dalam sebuah artikel di Global Research, Greenspan memang mendukung penuh kebijakan ekonomi Bush yang bertumpu pada paket kebijakan pemotongan pajak yang sangat bias pada usaha besar dan kelompok kaya dengan dalih untuk merangsang ekonomi. Waktu itu Greenspan terang-terangan mengatakan, pemangkasan pajak diperlukan untuk mencegah meluasnya keterpurukan ekonomi.
Greenspan juga mengadvokasikan diakhirinya UU anti-trust, regulasi dan aturan mengenai pelayanan sosial, agar tak ada apa pun lagi yang bisa mengganggu keserakahan bisnis dan perburuan profit oleh para pelaku pasar uang. Maka, faham kebijakan ekonominya pun diplesetkan dari Greenspanomics menjadi Greedomics (ekonomi yang digerakkan oleh keserakahan).
Ia juga mengatakan, tak bertanggung jawab atas terjadinya bubble pasar saham tahun 2000. Dia mengaku tidak melihat indikasi ke arah itu sebelumnya. Padahal, bubble itu tak akan terjadi tanpa ada kebijakan menggelontorkan likuiditas dalam skala masif seperti yang dilakukannya.
Tak akurat
Berbagai kebijakan yang ditempuh Greenspan menunjukkan ia sebagai pimpinan Bank Sentral berulang kali mengabaikan atau tidak akurat dalam membaca gejala/potensi bahaya atau ketidakberesan yang muncul saat itu. Padahal, kebijakannya menjadi acuan semua pelaku ekonomi, bukan hanya di AS, tetapi di seluruh dunia. Salah satunya, saat ia memprediksikan cerahnya prospek industri berbasis teknologi informasi.
Sepekan kemudian, indeks Nasdaq untuk saham-saham teknologi mengalami crash (anjlok dramatis) dari 5.048 menjadi 1.114 pada 9 Oktober 2002 atau terpangkas 78 persen. Indeks S&P 500 untuk 500 saham unggulan bernasib sama, terjerembab 49 persen. Para investor pun babak belur. Hari itu dikenal sebagai Selasa Kelam (Black Tuesday) oleh kalangan pasar modal. Dan apa yang dilakukan Greenspan? Tak jera, ia malah sibuk mengorkestrasi bubble baru dengan apalagi kalau bukan kembali menggelontorkan likuiditas murah bak tsunami ke Wall Street dan para investor besar, kali ini untuk sektor perumahan kelas dua (sub-prime). Dampak katastropik meletusnya bubble itulah yang kini kita saksikan di AS.
Bagi mereka yang lama mengenal Greenspan, semua sepak terjang dan reputasi Greenspan itu ternyata bukan hal yang mengagetkan. Mungkin orang tidak tahu, Greenspan yang mendapat gelar PhD dari Columbia University (padahal ia tak pernah menyelesaikan disertasinya) itu ternyata tak bisa dikatakan sukses mengelola bisnisnya sendiri.
Salah seorang pesaing usahanya, Pierre Renfret, mengatakan bahwa perusahaan konsultan Greenspan selalu membuat rekor prediksi paling tidak akurat atau jauh meleset, dan akhirnya bangkrut dan harus ditutup. Artinya, sebagai wirausahawan ia gagal. Anehnya, ia banyak dipercaya untuk menduduki berbagai jabatan penting yang terkait dengan penyusunan prediksi ekonomi di pemerintahan, bahkan akhirnya jadi pimpinan Fed untuk beberapa periode lagi.
Namun, semua cacian yang dihadapinya sekarang itu tampaknya tak mengusik Greenspan. Di usia 81 tahun sekarang ini, ia tetap bisa menikmati pensiun dengan tenang. Buku memoarnya, The Age of Turbulence, laku 1,9 juta kopi lebih dan dari penjualan buku itu ia mengantongi royalti tak kurang dari 8,5 juta dollar AS (hanya kalah dari buku Bill Clinton yang 10 juta dollar AS).
Ia juga mendirikan perusahaan konsultan sendiri (Greenspan Associates LLC) dan hampir semua lembaga investasi atau bank besar berebut merekrutnya karena koneksi ekstensif yang ia miliki. Undangan berbicara tak pernah sepi dan kantongnya pun semakin tebal. Honor ratusan ribu dollar AS yang diterimanya setiap kali tampil sekarang ini, menurut Lendman, belum seberapa dibandingkan dengan triliunan dollar AS uang yang ia bantu salurkan ke kaum kaya (rich) dan superkaya (super rich). Istilah Lendman, mereka saling menjaga di antara sesama mereka. (Sri Hartati )
Saturday, April 19, 2008
Harga Minyak Merangkak Naik
Berikut petikan berita seputar kenaikan harga minyak mentah dunia.
Harga Minyak Merangkak Naik
Koran-Tempo, 28 Maret 2008
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak dunia kembali merangkat naik mendekati US$ 110 per barel pada perdangangan Kamis (27/3) terpicu oleh berita meledaknya pipa minyak di Irak oleh aksi sabotase.
Di pasar utama New York, minyak mentah ringan untuk pengiriman Mei naik US$ 1,68 per barel. Minyak mentah ini ditutup pada harga US$ 107,58 per barel, setelah sempat menyentuh harga US$ 108,22 per barel pada perdagangan siang. Di pasar London, minyak mentah laut utara ditutup pada harga US$ 105 per barel. “Kombinasi pelemahan dolar dan semakin seretnya pasokan berpotensi mendoroang investor kembali ke pasar (membeli minyak),” kata Mike Fitzpatrick, analis MF Global.
Harga Minyak Merangkak Naik
Koran-Tempo, 28 Maret 2008
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak dunia kembali merangkat naik mendekati US$ 110 per barel pada perdangangan Kamis (27/3) terpicu oleh berita meledaknya pipa minyak di Irak oleh aksi sabotase.
Di pasar utama New York, minyak mentah ringan untuk pengiriman Mei naik US$ 1,68 per barel. Minyak mentah ini ditutup pada harga US$ 107,58 per barel, setelah sempat menyentuh harga US$ 108,22 per barel pada perdagangan siang. Di pasar London, minyak mentah laut utara ditutup pada harga US$ 105 per barel. “Kombinasi pelemahan dolar dan semakin seretnya pasokan berpotensi mendoroang investor kembali ke pasar (membeli minyak),” kata Mike Fitzpatrick, analis MF Global.
LPS Ikut Menjaga Stabilitas Keuangan
Semua ikut prihatin tentang nasib ekonomi Indonesia akibat krisis subprime mortgage dan LPS pun diminta untuk menjaga stabiltas keuangan seperti di beritakan Kompas,berikut petikannya secara utuh.
LPS Ikut Menjaga Stabilitas Keuangan
Kompas, 28 Maret 2008
Kuta, Kompas - Indonesia harus tetap waspada dan terus mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan yang dapat terjadi apabila krisis ekonomi global menjadi kenyataan.
Untuk itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama Bank Indonesia dan Departemen Keuangan berusaha ikut men- jaga stabilitas keuangan Indonesia.
Hal itu dikemukakan Ketua Dewan Komisioner LPS, Rudjito, pada The 6th Asia Regional Committee Annual Meeting and International Conference yang diselenggarakan LPS di Kuta, Bali, Kamis (27/3).
Akibat dari krisis sektor properti (subprime mortgage) di Amerika Serikat, perekonomian global sampai sekarang masih berada dalam kondisi yang serba tidak pasti.
Menurut Ketua Forum Stabilitas Sistem Keuangan Raden Pardede, sektor perumahan dan pasar tenaga kerja di AS sampai saat ini terus melemah dan mengalami perlambatan.
Konferensi internasional tersebut dihadiri delegasi LPS dari 21 negara, di antaranya India, Filipina, Jepang, Korea, Amerika Serikat, dan Rusia.
Raden mengatakan, berbagai langkah yang dilakukan Pemerintah AS, termasuk menurunkan tingkat suku bunga The Fed, sama sekali belum membuahkan hasil. Ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi AS yang sebenarnya belum kelihatan di permukaan.
Rudjito menambahkan, belajar dari krisis ekonomi Indonesia tahun 1997/1998, LPS bersama dengan BI dan Depkeu telah mempersiapkan diri menjaga stabilitas keuangan Indonesia.
Salah satu langkahnya yaitu memperketat pengawasan dan selalu memberikan supervisi terhadap industri perbankan Indonesia. Namun, lanjut Rudjito, stabilitas dan likuiditas sektor keuangan di Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga-lembaga di bawahnya. ”Tidak bisa hanya tergantung pemerintah. Industri perbankan juga harus ikut menjaga stabilitas,” ujarnya.
Melalui konferensi internasional lembaga-lembaga penjamin yang akan berlangsung sampai Sabtu besok, kata Rudjito, juga bisa belajar apa dan bagaimana sebenarnya peranan sebuah LPS dalam menjaga stabilitas sistem perbankan dan keuangan.
Menurut Rudjito, pada konferensi internasional lembaga penjamin tahun ini, LPS mengambil tema, ”Deposit Insurance as a Cornerstone for Financial Stability”. (REI)
LPS Ikut Menjaga Stabilitas Keuangan
Kompas, 28 Maret 2008
Kuta, Kompas - Indonesia harus tetap waspada dan terus mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan yang dapat terjadi apabila krisis ekonomi global menjadi kenyataan.
Untuk itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama Bank Indonesia dan Departemen Keuangan berusaha ikut men- jaga stabilitas keuangan Indonesia.
Hal itu dikemukakan Ketua Dewan Komisioner LPS, Rudjito, pada The 6th Asia Regional Committee Annual Meeting and International Conference yang diselenggarakan LPS di Kuta, Bali, Kamis (27/3).
Akibat dari krisis sektor properti (subprime mortgage) di Amerika Serikat, perekonomian global sampai sekarang masih berada dalam kondisi yang serba tidak pasti.
Menurut Ketua Forum Stabilitas Sistem Keuangan Raden Pardede, sektor perumahan dan pasar tenaga kerja di AS sampai saat ini terus melemah dan mengalami perlambatan.
Konferensi internasional tersebut dihadiri delegasi LPS dari 21 negara, di antaranya India, Filipina, Jepang, Korea, Amerika Serikat, dan Rusia.
Raden mengatakan, berbagai langkah yang dilakukan Pemerintah AS, termasuk menurunkan tingkat suku bunga The Fed, sama sekali belum membuahkan hasil. Ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi AS yang sebenarnya belum kelihatan di permukaan.
Rudjito menambahkan, belajar dari krisis ekonomi Indonesia tahun 1997/1998, LPS bersama dengan BI dan Depkeu telah mempersiapkan diri menjaga stabilitas keuangan Indonesia.
Salah satu langkahnya yaitu memperketat pengawasan dan selalu memberikan supervisi terhadap industri perbankan Indonesia. Namun, lanjut Rudjito, stabilitas dan likuiditas sektor keuangan di Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga-lembaga di bawahnya. ”Tidak bisa hanya tergantung pemerintah. Industri perbankan juga harus ikut menjaga stabilitas,” ujarnya.
Melalui konferensi internasional lembaga-lembaga penjamin yang akan berlangsung sampai Sabtu besok, kata Rudjito, juga bisa belajar apa dan bagaimana sebenarnya peranan sebuah LPS dalam menjaga stabilitas sistem perbankan dan keuangan.
Menurut Rudjito, pada konferensi internasional lembaga penjamin tahun ini, LPS mengambil tema, ”Deposit Insurance as a Cornerstone for Financial Stability”. (REI)
Thursday, March 20, 2008
Dapatkah Laju Inflasi ditekan sampai 1%
Koran Sindo memberitakan mengenai Rencana Pemerintah Menekan Laju Inflasi hingga 1%.
Berikut petikannya secara utuh.
JAKARTA (SINDO) – Pemerintah akan mengupayakan untuk menekan laju inflasi sebesar antara 0,8–1% selama tahun 2008.
Hal ini dilakukan sebagai strategi pemerintah untuk mencapai target inflasi sebesar 6,5% seperti diusulkan dalam rancangan APBN Perubahan 2008. ”Target ini (6,5%) sulit tercapai akibat adanya ancaman dari kenaikan harga-harga komoditas strategis di pasar internasional, kecuali pemerintah menyiasatinya seperti itu,” ujar Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo di Jakarta kemarin.
Menurut Bambang, penekanan inflasi tersebut akan dilakukan pemerintah, terutama pada beberapa bulan yang terbukti mengalami laju kenaikan inflasi cukup tinggi sepanjang tahun. Bulan- bulan tersebut adalah Juli, Agustus, September, Oktober, dan Desember. ”Paling tidak, laju inflasi pada lima bulan ini dapat diturunkan rata-rata 0,2% di bawah angka inflasi yang terjadi,” kata dia.
Bambang menjelaskan, berdasarkan evaluasi pihaknya, potensi kenaikan inflasi lima bulan didorong lonjakan belanja kebutuhan pendidikandankebutuhanmenyambut atau memperingati hari besar keagamaan.Pada 2007 misalnya, inflasi bulanan (month to month/MtM) tertinggi terjadi pada Desember sebesar 1,1%, kemudian September 0,8%, Oktober 0,79%, Agustus 0,75%,dan Juli 0,71%. Di luar lima bulan ini,ungkap Bambang,laju inflasi biasanya sudah rendah. Pada 2007 contohnya, laju inflasi Maret mencapai 0,24%,April minus 0,16%, Mei 0,1%, dan Juni 0,23%.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada Februari 2007 cukup tinggi yaitu 0,62%. ”Kalau inflasi April diturunkan lagi, sulit. Misalnya pada tahun lalu inflasi April minus 0,16%, jadi angkanya sudah minimal,” jelasnya. Di sisi lain, tambah Bambang, kestabilan inflasi juga sangat penting dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Untuk itu, pihaknya meminta otoritas moneter (Bank Indonesia) bisa mengawal laju inflasi dengan menjaga suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan lebih tinggi 1,5% dengan target rata-rata inflasi.
”BI setidaknya dapat mempertahankan SBI minimal 8% untuk menjaga target inflasi 6,5% sepanjang 2008. Jadi jarak inflasi dan SBI harus diatur, jangan sampai inflasi lebih tinggi dibandingkan SBI,”jelas dia. Kepala ekonom PT BNI Tbk Tony A Prasetyantono menilai sulit bagi pemerintah untuk menekan laju inflasi masing-masing 0,2% pada lima bulan rawan inflasi.
”Apa bisa, ya? Saya malah pesimistis itu,”ujar dia. Tony menjelaskan, perilaku masyarakat yang membelanjakan uangnya dalam jumlah besar ketika mendapat tunjangan di luar gaji, seperti gaji ke-13 dan tunjangan hari raya, menyebabkan laju inflasi sulit ditahan. ”Perilaku seperti ini juga susah dieliminasi,”kata dia. Menurut Tony, langkah yang perlu dilakukan pemerintah adalah dengan memperbaiki distribusi barang, terutama pada bulan puasa dan lebaran. Sebab, hampir sebagian besar penyebab inflasi nasional adalah terganggunya proses distribusi barang.
”Mungkin cara monetarist dari sisi moneter dengan menahan BI Rate tetap 8% akan efektif membantu menekan inflasi,”tambah dia. Sementara itu,kepala ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, peluang pemerintah menekan inflasi sulit dilakukan pada Juli dan Agustus. Pada dua bulan ini,biaya di sektor pendidikan biasanya meningkat signifikan.
”Kalau dampak lebaran dan bulan puasa (September) masih mungkin dilakukan bila pemerintah menjaga kelancaran suplai barang.Yang penting,Desember kenaikan harga beras yang signifikan seperti tahun lalu harus dicegah,”tambah dia. Sementara itu, ekonom Lippo Bank Winang Budoyo memprediksikan, sulit bagi pemerintah untuk menekan inflasi di bulan-bulan selama 2008.
Hal ini terjadi karena naiknya harga komoditas pangan dunia,sehingga pihaknya meyakini angka inflasi tahun 2008 akan mencapai 7%. ”Yang penting pemerintah harus jaga pasokan makanan supaya harga tetap terjaga. Pemerintah juga harus aktif mengintervensi pasar dengan operasi pasar,”ujar dia. (zaenal muttaqin)
Mari kita dukung upaya pemerintah ini dengan menekan tingkat konsumsi sekunder kita.
Berikut petikannya secara utuh.
JAKARTA (SINDO) – Pemerintah akan mengupayakan untuk menekan laju inflasi sebesar antara 0,8–1% selama tahun 2008.
Hal ini dilakukan sebagai strategi pemerintah untuk mencapai target inflasi sebesar 6,5% seperti diusulkan dalam rancangan APBN Perubahan 2008. ”Target ini (6,5%) sulit tercapai akibat adanya ancaman dari kenaikan harga-harga komoditas strategis di pasar internasional, kecuali pemerintah menyiasatinya seperti itu,” ujar Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo di Jakarta kemarin.
Menurut Bambang, penekanan inflasi tersebut akan dilakukan pemerintah, terutama pada beberapa bulan yang terbukti mengalami laju kenaikan inflasi cukup tinggi sepanjang tahun. Bulan- bulan tersebut adalah Juli, Agustus, September, Oktober, dan Desember. ”Paling tidak, laju inflasi pada lima bulan ini dapat diturunkan rata-rata 0,2% di bawah angka inflasi yang terjadi,” kata dia.
Bambang menjelaskan, berdasarkan evaluasi pihaknya, potensi kenaikan inflasi lima bulan didorong lonjakan belanja kebutuhan pendidikandankebutuhanmenyambut atau memperingati hari besar keagamaan.Pada 2007 misalnya, inflasi bulanan (month to month/MtM) tertinggi terjadi pada Desember sebesar 1,1%, kemudian September 0,8%, Oktober 0,79%, Agustus 0,75%,dan Juli 0,71%. Di luar lima bulan ini,ungkap Bambang,laju inflasi biasanya sudah rendah. Pada 2007 contohnya, laju inflasi Maret mencapai 0,24%,April minus 0,16%, Mei 0,1%, dan Juni 0,23%.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada Februari 2007 cukup tinggi yaitu 0,62%. ”Kalau inflasi April diturunkan lagi, sulit. Misalnya pada tahun lalu inflasi April minus 0,16%, jadi angkanya sudah minimal,” jelasnya. Di sisi lain, tambah Bambang, kestabilan inflasi juga sangat penting dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Untuk itu, pihaknya meminta otoritas moneter (Bank Indonesia) bisa mengawal laju inflasi dengan menjaga suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan lebih tinggi 1,5% dengan target rata-rata inflasi.
”BI setidaknya dapat mempertahankan SBI minimal 8% untuk menjaga target inflasi 6,5% sepanjang 2008. Jadi jarak inflasi dan SBI harus diatur, jangan sampai inflasi lebih tinggi dibandingkan SBI,”jelas dia. Kepala ekonom PT BNI Tbk Tony A Prasetyantono menilai sulit bagi pemerintah untuk menekan laju inflasi masing-masing 0,2% pada lima bulan rawan inflasi.
”Apa bisa, ya? Saya malah pesimistis itu,”ujar dia. Tony menjelaskan, perilaku masyarakat yang membelanjakan uangnya dalam jumlah besar ketika mendapat tunjangan di luar gaji, seperti gaji ke-13 dan tunjangan hari raya, menyebabkan laju inflasi sulit ditahan. ”Perilaku seperti ini juga susah dieliminasi,”kata dia. Menurut Tony, langkah yang perlu dilakukan pemerintah adalah dengan memperbaiki distribusi barang, terutama pada bulan puasa dan lebaran. Sebab, hampir sebagian besar penyebab inflasi nasional adalah terganggunya proses distribusi barang.
”Mungkin cara monetarist dari sisi moneter dengan menahan BI Rate tetap 8% akan efektif membantu menekan inflasi,”tambah dia. Sementara itu,kepala ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, peluang pemerintah menekan inflasi sulit dilakukan pada Juli dan Agustus. Pada dua bulan ini,biaya di sektor pendidikan biasanya meningkat signifikan.
”Kalau dampak lebaran dan bulan puasa (September) masih mungkin dilakukan bila pemerintah menjaga kelancaran suplai barang.Yang penting,Desember kenaikan harga beras yang signifikan seperti tahun lalu harus dicegah,”tambah dia. Sementara itu, ekonom Lippo Bank Winang Budoyo memprediksikan, sulit bagi pemerintah untuk menekan inflasi di bulan-bulan selama 2008.
Hal ini terjadi karena naiknya harga komoditas pangan dunia,sehingga pihaknya meyakini angka inflasi tahun 2008 akan mencapai 7%. ”Yang penting pemerintah harus jaga pasokan makanan supaya harga tetap terjaga. Pemerintah juga harus aktif mengintervensi pasar dengan operasi pasar,”ujar dia. (zaenal muttaqin)
Mari kita dukung upaya pemerintah ini dengan menekan tingkat konsumsi sekunder kita.
Pemerintah Jamin BBM Tak Naik
Informasi menarik di beritakan koran Sindo mengenai sesuatu yang sangat sensitif yaitu BBM.
Berikut petikannya secara komplit.
JAKARTA (SINDO) – Pemerintah menjamin tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) kendati APBN 2008 tertekan akibat kenaikan harga minyak dunia.
Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, untuk merumuskan opsi kenaikan harga BBM,pemerintah harus berunding dengan DPR. ”Presiden sudah menyampaikan bahwa kita tidak punya opsi untuk menaikkan harga BBM. Jangankan 0.00%, punya opsi saja kita tidak,”ujar dia di Jakarta kemarin. Namun,Paskah mengakui kenaikan harga minyak mentah dunia semakin memberatkan pemerintah, karena harus menanggung beban subsidi yang makin melonjak.
” Sementara pajak,profit dari minyak, dan dividen BUMN itu semua enggak bisa meng-cover kebutuhan subsidi yang besar,”kata dia. Di sisi lain, pemerintah akan mengurangi konsumsi BBM nasional sebagai konsekuensi tidak dinaikkannya harga BBM.Ini untuk meminimalisasi beban subsidi dalam APBN Perubahan 2008. ”Opsi kenaikan mungkin tidak,tapi konsumsi BBM akan dikurangi.Kami sedang mempersiapkan semua,” ujar dia. Selain itu,ungkap dia,pemerintah juga terus mempertimbangkan opsi kenaikan asumsi harga minyak dalam RAPBN Perubahan 2008.
Opsi asumsi itu adalah USD85 per barel, USD100 per barel, dan USD110 per barel. Sementara itu, kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta pemerintah dan DPR tidak mengambil opsi menaikkan harga BBM. Dikhawatirkan, kenaikan harga akan memicu terjadinya kebangkrutan industri padat karya.
”Artinya, tingkat pengangguran juga akan meningkat tajam,” ujar Ketua Komite Tetap Moneter & Sistem Fiskal Kadin Bambang Soesatyo. Usulan senada disampaikan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sandiaga S Uno.Menurut dia, pemerintah tidak perlu menempuh opsi menaikkan harga BBM untuk pengamanan APBN.
”Saya bahkan setuju 200%, bahwa itu tidak usah dinaikkan,”ujar dia. Di tempat terpisah,Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia. Dia menegaskan, naiknya harga minyak dunia harus dilihat dari dua sisi, baik dari sisi penerimaannya maupun subsidinya. (zaenal muttaqin/ rarasati syarief)
Apakah ini khabar baik atau tidak tergantung kita menyikapinya.
Berikut petikannya secara komplit.
JAKARTA (SINDO) – Pemerintah menjamin tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) kendati APBN 2008 tertekan akibat kenaikan harga minyak dunia.
Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, untuk merumuskan opsi kenaikan harga BBM,pemerintah harus berunding dengan DPR. ”Presiden sudah menyampaikan bahwa kita tidak punya opsi untuk menaikkan harga BBM. Jangankan 0.00%, punya opsi saja kita tidak,”ujar dia di Jakarta kemarin. Namun,Paskah mengakui kenaikan harga minyak mentah dunia semakin memberatkan pemerintah, karena harus menanggung beban subsidi yang makin melonjak.
” Sementara pajak,profit dari minyak, dan dividen BUMN itu semua enggak bisa meng-cover kebutuhan subsidi yang besar,”kata dia. Di sisi lain, pemerintah akan mengurangi konsumsi BBM nasional sebagai konsekuensi tidak dinaikkannya harga BBM.Ini untuk meminimalisasi beban subsidi dalam APBN Perubahan 2008. ”Opsi kenaikan mungkin tidak,tapi konsumsi BBM akan dikurangi.Kami sedang mempersiapkan semua,” ujar dia. Selain itu,ungkap dia,pemerintah juga terus mempertimbangkan opsi kenaikan asumsi harga minyak dalam RAPBN Perubahan 2008.
Opsi asumsi itu adalah USD85 per barel, USD100 per barel, dan USD110 per barel. Sementara itu, kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta pemerintah dan DPR tidak mengambil opsi menaikkan harga BBM. Dikhawatirkan, kenaikan harga akan memicu terjadinya kebangkrutan industri padat karya.
”Artinya, tingkat pengangguran juga akan meningkat tajam,” ujar Ketua Komite Tetap Moneter & Sistem Fiskal Kadin Bambang Soesatyo. Usulan senada disampaikan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sandiaga S Uno.Menurut dia, pemerintah tidak perlu menempuh opsi menaikkan harga BBM untuk pengamanan APBN.
”Saya bahkan setuju 200%, bahwa itu tidak usah dinaikkan,”ujar dia. Di tempat terpisah,Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia. Dia menegaskan, naiknya harga minyak dunia harus dilihat dari dua sisi, baik dari sisi penerimaannya maupun subsidinya. (zaenal muttaqin/ rarasati syarief)
Apakah ini khabar baik atau tidak tergantung kita menyikapinya.
Laju Ekonomi/Pertumbuhan Ekonomi dunia
Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita di Bisnis Indonesia pada tanggal 31 Januari 2008 mengenai prediksi laju/pertumbuhan ekonomi dunia yang sangat mengkhawatirkan yang salah satu sumbernya adalah dari laporan IMF.
Berikut petikan secara lengkap liputan Bisnis Indonesia tersebut :
IMF kembali koreksi prediksi laju ekonomi dunia 2008Bisnis-Indonesia, 31 Januari 2008
JAKARTA: Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari perkiraan awal 4,9% menjadi 4,1% menyusul sejumlah risiko terutama turbulensi di pasar keuangan dan perlemahan perekonomian AS.
Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan penurunan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2007 mencapai level terendah selama 26 tahun terakhir.
IMF menyatakan tekanan di pasar keuangan makin menguat berawal dari sektor kredit subprime AS dan memicu kerugian neraca keuangan perbankan negara maju dan pelepasan dana di pasar ekuitas global mencerminkan ketidakpastian yang tinggi. Risiko yang menghadang negara maju itu diperkirakan akan merembet ke negara berkembang.
“Pertumbuhan negara berkembang yang menggantungkan pada arus investasi akan lebih terpukul, sementara momentum kuat di sisi permintaan domestik di beberapa negara berkembang berpotensi meningkat,” tulis IMF dalam laporan yang bertajuk World Economic Outlook Update, kemarin.
Risiko yang lain adalah tantangan pada kebijakan moneter yang dihadapkan pada situasi untuk menyeimbangkan risiko dari tekanan inflasi dan perlambatan aktivitas ekonomi. Namun, IMF juga memperkirakan kemungkinan perlemahan harga minyak mentah yang berpeluang memperlambat inflasi.
IMF tercatat telah dua kali merilis laporan WEO Update yang memuat prediksi pertumbuhan ekonomi dunia, yaitu pada April dan Oktober 2007. Dalam dua laporan sebelumnya, risiko perlambatan pertumbuhan dunia lebih disebabkan lonjakan harga minyak dunia dan krisis subprime mortgage. Lembaga multilateral itu belum memasukkan risiko terjadinya resesi di AS.
Pertumbuhan ekonomi AS kuartal IV/2007 kemarin dilaporkan turun pada level terendah dalam 26 tahun terakhir. Departemen Perdagangan AS menyatakan PDB negara itu hanya tumbuh 0,6%, anjlok dari posisi kuartal sebelumnya di level 4,9%.
Bunga The Fed
Federal Reserve kemungkinan menurunkan tingkat suku bunga untuk kedua kalinya dalam sembilan hari terakhir menjadi 3% dan mengindikasikan perekonomian masih dalam kondisi darurat.
Federal Open Market Committee (FOMC), yang mengakhiri dua hari pertemuannya kemarin, kemungkinan melanjutkan kebijakan darurat sebesar setengah poin dalam benchmark-nya, berdasarkan pendapat 48 dari 85 ekonom yang disurvei Bloomberg menjadi sekitar 3%.
Indeks Dow Jones hingga pukul 22.07 WIB melemah 43 poin pada awal perdagangan menjelang keputusan The Fed.
Di Jakarta, Kepala Investasi Pengelolaan Kekayaan Pribadi Deutsche Bank Chew Soon-Gek mengatakan laju inflasi dunia tahun ini masih terkendali khususnya di AS sebagai dampak dari pengaruh minimal dari gaji. Namun, dia memperkirakan harga makanan dan minyak akan tetap meningkat pada semester pertama dengan harga minyak rata-rata US$85 per barel. (nana.oktavia@bisnis. co.id/lutfi.zaenudin@bisnis.co.id)
Bila anda ingin mendapatkan informasi yang komplit dapat mengunjungi situs Bisnis Indonesia atau email kepada kontak personnya.
Nah Bagaimana pendapat anda...?
Berikut petikan secara lengkap liputan Bisnis Indonesia tersebut :
IMF kembali koreksi prediksi laju ekonomi dunia 2008Bisnis-Indonesia, 31 Januari 2008
JAKARTA: Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari perkiraan awal 4,9% menjadi 4,1% menyusul sejumlah risiko terutama turbulensi di pasar keuangan dan perlemahan perekonomian AS.
Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan penurunan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2007 mencapai level terendah selama 26 tahun terakhir.
IMF menyatakan tekanan di pasar keuangan makin menguat berawal dari sektor kredit subprime AS dan memicu kerugian neraca keuangan perbankan negara maju dan pelepasan dana di pasar ekuitas global mencerminkan ketidakpastian yang tinggi. Risiko yang menghadang negara maju itu diperkirakan akan merembet ke negara berkembang.
“Pertumbuhan negara berkembang yang menggantungkan pada arus investasi akan lebih terpukul, sementara momentum kuat di sisi permintaan domestik di beberapa negara berkembang berpotensi meningkat,” tulis IMF dalam laporan yang bertajuk World Economic Outlook Update, kemarin.
Risiko yang lain adalah tantangan pada kebijakan moneter yang dihadapkan pada situasi untuk menyeimbangkan risiko dari tekanan inflasi dan perlambatan aktivitas ekonomi. Namun, IMF juga memperkirakan kemungkinan perlemahan harga minyak mentah yang berpeluang memperlambat inflasi.
IMF tercatat telah dua kali merilis laporan WEO Update yang memuat prediksi pertumbuhan ekonomi dunia, yaitu pada April dan Oktober 2007. Dalam dua laporan sebelumnya, risiko perlambatan pertumbuhan dunia lebih disebabkan lonjakan harga minyak dunia dan krisis subprime mortgage. Lembaga multilateral itu belum memasukkan risiko terjadinya resesi di AS.
Pertumbuhan ekonomi AS kuartal IV/2007 kemarin dilaporkan turun pada level terendah dalam 26 tahun terakhir. Departemen Perdagangan AS menyatakan PDB negara itu hanya tumbuh 0,6%, anjlok dari posisi kuartal sebelumnya di level 4,9%.
Bunga The Fed
Federal Reserve kemungkinan menurunkan tingkat suku bunga untuk kedua kalinya dalam sembilan hari terakhir menjadi 3% dan mengindikasikan perekonomian masih dalam kondisi darurat.
Federal Open Market Committee (FOMC), yang mengakhiri dua hari pertemuannya kemarin, kemungkinan melanjutkan kebijakan darurat sebesar setengah poin dalam benchmark-nya, berdasarkan pendapat 48 dari 85 ekonom yang disurvei Bloomberg menjadi sekitar 3%.
Indeks Dow Jones hingga pukul 22.07 WIB melemah 43 poin pada awal perdagangan menjelang keputusan The Fed.
Di Jakarta, Kepala Investasi Pengelolaan Kekayaan Pribadi Deutsche Bank Chew Soon-Gek mengatakan laju inflasi dunia tahun ini masih terkendali khususnya di AS sebagai dampak dari pengaruh minimal dari gaji. Namun, dia memperkirakan harga makanan dan minyak akan tetap meningkat pada semester pertama dengan harga minyak rata-rata US$85 per barel. (nana.oktavia@bisnis. co.id/lutfi.zaenudin@bisnis.co.id)
Bila anda ingin mendapatkan informasi yang komplit dapat mengunjungi situs Bisnis Indonesia atau email kepada kontak personnya.
Nah Bagaimana pendapat anda...?
Subscribe to:
Posts (Atom)